Sesosok pria gondrong dengan wajah yang nampak selalu malas sedang terduduk di sofa, dia lelah, habis pijat katanya. Perjalanan jauh rangkaian screening test video dokumenternya yang berjudul Sesudah Pergaulan Blues perlahan mulai menggerogoti tubuhnya yang sejak awal memang tidak pernah terlihat fit itu. Ya, dialah Allan Soebakir, sosok di balik termahsyurnya Sinema Pinggiran alias Sineping. Dengan semangat kolaboratif dan kolektif, entah sudah berapa puluh video musik yang dia buat, kontribusinya pada skena musik indie bahkan sudah dapat dibilang sebuah bentuk jihad. Mungkin, jika Tuhan kelak mencabut nyawanya dia akan tergolong kaum yang sahid di jalur indie. Ngeri.

Allan tidak datang sendirian ke Rumah Mesra hari itu, ada Alkins yang setia menemaninya merintis Sineping selaku DOP untuk kebanyakan produksinya. Tujuan utama mereka datang saat itu adalah untuk melakukan screening video dokumenter teranyarnya yang menceritakan kisah perjalanan nabi indie Jason Ranti atau yang kerap disapa Jeje setelah album Akibat Pergaulan Blues. Jelas kami sangat senang kedatangan orang-orang ini, mereka bukan lagi tamu, mereka saudara yang datang berkunjung. Terlebih lagi, mereka bukan tipe saudara yang tidak kami sukai.

View this post on Instagram

Mengawali bulan puasa dengan menonton film. Beberapa waktu silam, Sinema Pinggiran kembali merilis sebuah film dokumenter “Sesudah Pergaulan Blues” tentang musisi Indonesia Jason Ranti. Dalam perjalanan kelilingnya akhirnya Film ini mendarat di Sukabumi. Selain itu, kami masih belum bisa beranjak dari pengalaman luar biasa saat Showcase Dialektika @dialogsenjamusic X @suardantemaram salah satu karya visual karya Williem Klauke X Rumah Mesra “Dialektika” Dan sebagai pelengkap untuk memenuhi hasrat movie marathon kami juga akan memutarkan series yang sangat sering di bicarakan, Game Of Thrones season 8 Episode 4. Tanggal 6 Mei 2019 Musdalifah Room @rumahmesra HTM 10k Sampai bertemu!

A post shared by Layar Berkaca (@layarberkaca) on

 

 

Hari itu, 6 Mei 2019, Layar Berkaca memfasilitasi screening video tersebut. Setelah berpura-pura buka puasa, kami mulai menyiapkan venue yang bertempat di ruangan Musdalifah. Ada 3 film yang diputar yaitu Dialektika sebuah art video dari Willem, film-maker dari Jerman yang kebetulan sedang melakukan program residency di Rumah Mesra, Sesudah Pergaulan Blues dari Sinema Pinggiran yang menjadi highlight malam itu, dan tentunya Game Of Thrones yang sedang sangat seksi-seksinya sebagai penutup.

Video pertama dari Willem sudah selesai diputar bersama diskusi dan segala pertanyaannya. Kini, giliran Sesudah Pergaulan Blues untuk diproyeksikan di permukaan layar. Lampu sudah dimatikan, pemutaran pun dimulai. Terlihat para penonton penasaran dengan apa yang akan Sineping suguhkan, terutama gerombolan woyo yang ada di pojokan. Film dimulai dengan kamera mengarah ke atas panggung melakukan panning dan tilting secara tidak beraturan dengan shutter speed yang rendah menciptakan motion yang blur. Sekilas, ini mengingatkan kami pada Chungking Express-nya Wong Kar Wai di scene awal ketika si pemeran utama berlarian di tengah pusat perbelanjaan. Setelah itu, film berlanjut menunjukan potongan-potongan show, proses kreatif dan kehidupan Jeje di balik panggung. Tak terasa sekitar 45 menit sudah berlalu dan film pun berakhir.

Kini tiba saatnya untuk sesi tanya jawab, para penonton terlihat mulai menyiapkan unek-unek dan kesannya pada Allan. Ada satu pertanyaan yang sangat menarik yaitu mengenai French New Wave. Memang benar selama pemutaran, istilah itu muncul dalam beberapa scene seperti teror dan memaksa penonton untuk melihatnya. Allan mengungkapkan bahwa French New Wave adalah sebuah pergerakan perfilman di Prancis yang terjadi di sekitar tahun 50-60an yang ditandai dengan percobaan yang ekstrem dari segi narasi, pengambilan gambar, hingga penyuntingan. Dia mengaku baru saja mendapatkan istilah ini beberapa hari yang lalu dan langsung ditambahkan ke dalam dokumenternya karena dia merasa frase inilah yang menggambarkan dokumenter ini. Selain itu, ketika ditanya apa tujuannya membuat dokumenter ini, Allan menjawab bahwa dia ingin merekam apa yang dia lihat. Jason Ranti dari mata seorang Allan Soebakir.

Sesuai dengan tujuan awalnya, Allan bertujuan untuk melakukan pembaruan untuk dokumenter ini. Dia bilang bahwa materi yang digunakan baru sekitar 60% dari jumlah keseluruhan dan masih akan terus diolah. Semua kritik dan saran selama tur screening test ini akan jadi patokan utamanya dalam melakukan amandemen.

Selain itu, sebagai informasi tambahan, pada tanggal 2 Juli 2019 mendatang, Sineping akan merayakan anniversary yang ke-10 dengan  screening, talks, dan music performance dari beberapa artis yang pernah berkolaborasi dengan Sineping. Tiketnya sendiri sudah habis terjual, sungguh berbahaya.

Teks oleh Riki Rinaldi
Foto oleh Darwin Agustian C.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *