Pada helatan Record Store Day Sukabumi yang diselenggarakan oleh Sukabumi Music Store pada tanggal 28 April 2019, ada satu penampil yang mencuri perhatian banyak orang dengan permainan musik yang seakan menggiring dan menggoda para penonton untuk menyerahkan diri pada irama yang mengalun. Malam itu, Analog Koffiehuis yang menjadi venue pertunjukan bertransformasi menjadi jalur Pantura untuk sesaat.

Lair adalah sebuah band yang, uniknya, menggunakan instrumen yang terbuat dari tanah liat atau genteng. Mereka berasal dari Jatiwangi yang dikenal sebagai produsen genteng terbesar se-Asia Tenggara. Sebelumnya, mereka tergabung dalam satu komunitas yang bernama Jatiwangi Art Factory (JAF).

Asal-usul band ini terkait sangat erat dengan komunitas tersebut karena kelahiran instrumen dari genteng seperti gitar, bass dan tambur yang mereka gunakan berawal dari eksplorasi JAF untuk mencari pemanfaatan alternatif dari tanah liat selain sebagai genteng untuk atap. Mereka mengatakan bahwa Lair bukan band pertama yang menggunakan instrumen keramik dalam bermusik. Sebelumnya, Hanyaterra telah lebih dulu menggunakannya, dan dua personilnya kini tergabung dalam Lair yaitu Teddy (Voc/Guitar) dan Aaf (Voc/Bass). Ditambah dengan Ika (Voc), Tamtam (Voc), Pipin (Voc/Guitar) dan Kiki (Tambur), maka pada tanggal 18 Maret 2018 terbentuklah Lair.

Ika bercerita bahwa pada awalnya, jauh sebelum nama Lair terbentuk mereka sempat menonton sebuah pertunjukan Tarling Klasik dengan penampil legendaris yang dikenal dengan nama Mama Jana. Sepulang dari pertunjukan itu, mereka berinisiatif untuk membentuk sebuah band yang memasukan unsur tarling ke dalam musiknya. Tidak berhenti sampai disitu, influence tarling sangat kental mengalir dalam darah mereka karena ternyata nama Lair pun diambil dari kata ‘lahir’ dalam versi pelafalan sinden tarling.

Dalam helatan Record Store Day Sukabumi, mereka menyiapkan sebuah exclusive release dalam bentuk kaset pita yang berisi tiga lagu yaitu Nalar, Roda Gila, dan Kisser Remang Utara. Nalar, sebagai single yang pertama dirilis dalam bentuk music video di kanal Youtube menceritakan tentang iklim politik beserta segala polusi visual yang dihasilkannya. Untuk Roda Gila, Lair mengangkat keseharian supir truk yang lalu lalang di jalur Pantura. Terakhir, dalam Kisser Remang Utara, fenomena warung-warung di pinggir jalan yang biasanya disinggahi para supir untuk ‘jajan’ pun diangkat ke permukaan sebagai realitas kehidupan Pantura. Oleh karena itu, ketika Lair mengklaim bahwa genre musiknya adalah Pantura Soul, kami rasa tidak ada alasan yang dapat membantah jiwa ke-pantura-an yang mereka miliki.

Ketika ditanya tentang jadwal rilis album, mereka masih merahasiakan tanggal baik yang mereka pilih. Namun, sedikit bocoran, mereka telah melewati tahap produksi dan akan merilis album dalam waktu dekat. Kemudian, kabar membanggakan berikutnya adalah, setelah lebaran Lair akan diundang ke Inggris untuk perform dan mengisi workshop musik di beberapa kota di sana. Mari kita nantikan kabar baik lainnya dari Lair yang akan merilis albumnya dan membawa pesta rakyat Pantura ke panggung Internasional.

Teks Oleh Riki Rinaldi
Foto Diambil Dari Arsip Lair

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *